Ukuran Kain Kafan Untuk Jenazah Laki-Laki Dan Perempuan

Tutorialonline.my.id – Kain kafan adalah sebagian helai kain yang biasa digunakan untuk menutup dan membungkus jenazah laki-laki dan perempuan. Ada sebagian keputusan yang perlu diperhatikan tentang bentuk, ukuran dan tipe kain kafan.

Ukuran Kain Kafan Untuk Jenazah Laki-Laki Dan Perempuan

Pertama: Bentuk Kain Kafan Untuk Laki-Laki

Diriwayatkan berasal dari Aisyah radhiallahu ‘Anha ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُفِّنَ فِي ثَلاَثَةِ أَثْوَابٍ يَمَانِيَةٍ بِيضٍ، سَحُولِيَّةٍ[1] مِنْ كُرْسُفٍ[2] لَيْسَ فِيهِنَّ قَمِيصٌ وَلاَ عِمَامَةٌ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam dikafani memakai tiga helai kain berasal dari Negeri Yaman yang berwarna putih higienis berbahan katun dan bukan berupa sandang maupun surban.[3]

Berasal dari pemahaman hadits ini dan lainnya bahwa disunnahkan didalam kain kafan sebagai berkut :

1. Berwarna putih. Berdasarkan hadits rasul Shallallahu ‘Alaihi wasallam :

الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ، وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ

“Pakailah sandang berwarna putih, gara-gara itulah sebaik-baiknya sandang, dan jadikan tersebut sebagai kafan bagi mayit kalian ”.[4]

2. Bagi pria kafan sebanyak tiga lapis

Jumlah kain kafan untuk jenazah laki-laki sebanyak 3 helai atau lapis.

3. Kain katun

Terlalu dianjurkan menggunkan kain yang berbahan katun.

4. Bukan sandang atau surban dan boleh mengkafani mengenakan surban tetapi lebih primer ditinggalkan.

Diriwayatkan berasal dari Ibnu Umar radhiallahu ‘Anhu

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَيٍّ لَمَّا تُوُفِّيَ، جَاءَ ابْنُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَعْطِنِي قَمِيصَكَ أُكَفِّنْهُ فِيهِ، وَصَلِّ عَلَيْهِ، وَاسْتَغْفِرْ لَهُ، فَأَعْطَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَمِيصَهُ

“Bahwa ketika Abdullah bin Ubay meninggal, anaknya singgah menemui nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam dan berkata, wahai rasulullah, berikanlah gamismu kepadaku untuk aku kafankan kepadanya. Shalatkanlah dan mintakanlah ampunan untuknya. Rasulullahpun menambahkan gamisnya”.[5]

Imam Syafi’I berkata didalam al-umm (1/236), “Jika dikafani dengan gamis, maka gamis itu diletakan pada bagian di dalam, sesudah itu dilapisi dengan kain kafan di atasnya”.

5. Salah satu berasal dari kainnya berupa kain hibarah, yaitu bergaris dan berwarna. Diriwayatkan berasal dari jabir berasal dari nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam ia bersabda:

إِذَا تُوُفِّيَ أَحَدُكُمْ فَوَجَدَ شَيْئًا فَلْيُكَفَّنْ فِي ثَوْبٍ حِبَرَةٍ

“Apabila diantara kalian meninggal dan menemukan sesuatu maka kafanilah dengan kenakan kain hibarah.”[6]

6. Kain kafan diberi wewangian

Diriwayatkan berasal dari jabir radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda:

اذا أجمرتم الميت , فأجمروه ثلاثا

“Apabila kalian menambahkan wewangian kepada mayit, maka berikanlah tiga kali”[7]
Lebih dari satu golongan ulama membolehkan, karena norma semasa hidupnya ketika sesudah mandi, kenakan sandang baru dan menggunakan wewangian, begitu pula mayit.

Bagaimana Jika Kain Kafan Tidak Cukup Menutupi Seluruh Tubuh Mayit?

Diriwayatkan berasal dari Khabbab:

قتل يوم أحد فلم نجد ما نكفنه الا بردة اذا غطينا بها رأسه خرجت رجله, و اذا غطينا رجليه خرج رأسه , فأمرنا النبى صلى الله عليه و سلم أن نغطى رأسه و أن نجعل على رجليه من الاذخر “

“Bahwa Mush’Ab bin Umair terbunuh di dalam perang Uhud, dan kita tidak menemukan kain untuk mengkafaninya tidak cuman kain Burdah. [8] Apabila kita menutup bagian kepalanya maka bagian kakinya terbuka. Dan apabila kita menutup bagian kakinya maka bagian kepalanya terbuka. Lantas nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam memerintahkan kita untuk menutupi kepalanya dan menutupi bagian kakinya dengan daun Idzkhir.”.[9]

Mengkafani Orang Yang Sedang Ihram Dengan Pakaian Ihramnya Tanpa Menutup Kepalanya

Diriwayatkan berasal dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘Anhuma bahwa ada seorang laki-laki ketika tengah ihram dengan Nabi shallallahu ‘Alaihi wasallam tiba-tiba terlempar berasal dari untanya agar meninggal. Lantas Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda:

” اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْنِ أَوْ قَالَ: ثَوْبَيْهِ، وَلاَ تُحَنِّطُوهُ، وَلاَ تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ، فَإِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ يُلَبِّي “

“Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara, kafanilah dengan dua helai kain dan janganlah diberi wewangian dan jangan pula diberi tutup kepala (Serban) dikarenakan ia nanti dibangkitkan pada hari kiamat didalam kondisi bertalbiyyah”.[10]

Mengkafani Orang Yang Mati Syahid Karena Terbunuh Dengan Pakaiannya Saat Terbunuh Atau Dengan Pakaian Yang Lain

Diriwayatkan berasal dari Abdullah bin Tsa’Labah bin Shufair bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam berkata pada hari perang Uhud
زملوهم فى ثيابهم
“Selimutilah mereka dengan sandang mereka”.[11]
Ulama sepakat boleh mengkafani orang yang mati syahid dengan mengikut sertakan pakaiannya selagi terbunuh.
Mayoritas ulama mengatakan supaya melepaskan sandang mereka jika tersebut bukan homogen sandang yang tidak biasa digunakan, misal berasal dari kulit, besi ataupun tembaga.

Dalil yang menunjukan bahwa mengkafani Syuhada mengenakan pakaiannya dibolehkan namun bukanlah hal yang mesti. Sebagaimana yang diriwayatkan berasal dari az-zubair radhiallahu ‘Anhu :

أن صفية أرسلت الى النبى صلى الله عليه و سلم ثوبين ليكفن فيهما حمزة رضى الله عنهو فكفنه فى أحدهما , وكفن فى الآخر الا نصارى الذى لم يكن له كفن

“Bahwa shafiyah mengirim dua helai kain kepada nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam untuk mengkafani Hamzah, lantas beliau mengkafani dengan salah satu berasal dari keduanya. Dan mengkafani dengan satunya lagi kepada sahabat anshar yang tidak miliki kain kafan.”[12]

Hadits itu menceritakan pengkafanan Mus’Ab bin Umair yang sudah terbunuh di dalam Perang Uhud.”

Kedua: Kain Kafan Untuk Wanita

Mengkafani wanita layaknya halnya mengkafani seorang laki-laki, hal ini disunnahkan, menurut pendapat para ulama, sebanyak lima lapis. Dalil berkenaan hal ini adalah hadits dhaif:

Bahwa Laili binti Qaif As-Saqafiyah berkata:

كُنْتُ فِيمَنْ غَسَّلَ أُمَّ كُلْثُومٍ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ وَفَاتِهَا، فَكَانَ أَوَّلُ مَا أَعْطَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحِقَاءَ، ثُمَّ الدِّرْعَ، ثُمَّ الْخِمَارَ، ثُمَّ الْمِلْحَفَةَ، ثُمَّ أُدْرِجَتْ بَعْدُ فِي الثَّوْبِ الْآخَرِ»، قَالَتْ: «وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ عِنْدَ الْبَابِ مَعَهُ كَفَنُهَا يُنَاوِلُنَاهَا ثَوْبًا ثَوْبًا» “

“Aku adalah salah seorang yang memandikan Ummu Kulsum putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam ketika wafatnya. Kain pertama yang diberikan rasulullah kepada kita adalah kain sarung, baju kurung, jilbab, selimut, lalu dibungkus beserta kain yang lainnya. Ia melanjutkan.[13]

Sedangkan Rasulullah duduk di depan pintu. Beliau membawa kain kafan dan memberikannya kepada kita satu persatu”

Ibnu Mundzir berkata, “Para ulama berpendapat bahwa jumlah kain kafan wanita adalah lima lembar dan hal tersebut disunnahkan sebab memang wanita dikhususkan selalu lebih didalam berpakaian untuk menutupi auratnya dibanding laki-laki, begitu pula sesudah meninggal di dalam mengkafani.

Mengkafani Wanita Dengan Kain Sutera

Hukumnya boleh, dikarenakan hal ini disamakan layaknya semasa hidupnya dan makruh apabila ada unsur berlebihan layaknya menyia-nyiakan harta. Terlalu berbeda sekali ketika masih hidup yang hanyalah diperuntukan bagi suaminya.[14]

Footnote:

[1] Kain rona putih higienis, yang dinisbatkan pada suatu area Sahul di negara Yaman

[2] Berbahan katun

[3] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1264), Muslim (941)

[4] Hadits Riwayat: Abu Daud (3878), At-Tirmidzi (994), Ibnu Majah (1472). Shahih li ghairihi

[5] Hadits Riwayat:. Al-Bukhari (1269), Muslim (2774)

[6] Hadits Riwayat:. Abu Daud (3150), Al-Baihaqi (3/403), Ibnu Muin udah membenarkan hadits itu, dan keterangan ini terdapat pada Ahmad (3/335), Ibnu Syaibah (3/266), berasal dari dua arah yang berbeda, maka hadits ini disahkan, dan ada di dalam Shahih Al-Jami’. Shahih

[7] Hadits Riwayat: Ahmad (3/331), Ibnu Abi Syaibah (3/265), Hakim (1/355), Al-Baihaqi (3/405). Hasan

[8] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (12/67)

[9] Fath Al bari (3/142)

[10] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (18/49)

[11] Hadits Riwayat: Ahmad (5/431) dengan sanad lemah, dan lebih dari satu ulama mendhaifkan hadis ini sebab perawinya berbeda dengan Imam Ahmad (5/431), An-Nasa`I (4/6-78/28) dengan lafaz “Zamiluhum bi kulumihim wa dimaihim” dikatakan bahwa tidak ada disparitas , dikarenakan dua lafaz ini telah menyadari, dan hadits yang diriwayatkan oleh Syahid berasal dari haditsnya Jabir, Abu Daud (31/33) dan berasal dari Ibnu Abbas (31/34) , Ibnu Majah (15/15) dan tak sekedar berasal dari perawi itu. Hasan dengan bermacam jalur.

[12] Hadits Riwayat: Ahmad (1/165), Al-Baihaqi (3/401), dan tak hanya keduanya. Shahih dengan jalurnya

[13] Hadits Riwayat: Abu Daud (31/57) dengan sanad Dhaif

[14] Al-Majmu’ An-Nawawi (5/197)

Recommended For You

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *